Tajuk – Kamis, 28 Mei 2026, Penulis baru saja menyelesaikan pembersihan rumahnya sendiri setelah banjir kembali menghantam Kecamatan Biau. Hari ini, sejumlah anggota Polri dan TNI terlihat turun membantu membersihkan rumah-rumah warga. Bantuan tersebut tentu patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan di tengah penderitaan masyarakat.
Namun, di saat yang sama, penulis merasa perlu mengingatkan kembali budaya membaca kepada para elite penguasa. Sebab, semakin terasa bahwa penderitaan rakyat hari ini kerap dijadikan latar legitimasi kekuasaan oleh mereka yang duduk nyaman di kursi pemerintahan.
Entah tulisan ini akan dibaca atau tidak, setidaknya penulis telah berupaya menyampaikan satu pelajaran sederhana: rakyat tidak diam. Rakyat melihat, rakyat mendengar, dan rakyat mengingat.
Ini bukan kali pertama penulis bersuara. Hampir setiap tahun penulis menulis berita, opini, dan keluhan tentang kondisi masyarakat Kecamatan Biau. Namun, seperti biasa, suara rakyat seolah hanya dianggap penting ketika kamera menyala dan air sedang meninggi. Padahal masyarakat tidak meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin hidup tenang di rumah mereka sendiri.
Provinsi Gorontalo hari ini dipimpin oleh Gusnar Ismail. Sementara Gorontalo Utara dipimpin oleh Thariq Modanggu—sosok yang dikenal luas sebagai intelektual, akademisi, dosen, kader HMI, sekaligus tokoh penting dalam sejarah berdirinya Gorontalo Utara.
Penulis bahkan membaca sejumlah karya beliau, seperti Mengutuk Tuhan yang Terkutuk, yang berbicara mengenai penderitaan manusia dan kegelisahan sosial; Energi Perjalanan Dinas, yang merefleksikan hubungan antara kekuasaan dan realitas rakyat; hingga Menyelami Dunia Pemikiran, yang mengajak manusia berpikir kritis terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Karena itulah penulis mulai bertanya: bagaimana mungkin begitu banyak gagasan besar lahir dari buku-buku itu, tetapi rakyat masih hidup dalam ketakutan yang sama setiap tahun? Bagaimana mungkin negara yang dipimpin orang-orang terdidik justru belum mampu menghadirkan rasa aman bagi masyarakatnya sendiri?
Keraguan perlahan muncul. Keinginan untuk mengatakan bahwa semua itu berhenti sebatas kata-kata mulai tumbuh. Amanah undang-undang untuk melindungi masyarakat dari ancaman, melakukan mitigasi bencana, dan menjamin keselamatan rakyat seolah belum benar-benar hadir di Kecamatan Biau.
Padahal, Georg Wilhelm Friedrich Hegel pernah menyatakan bahwa bentuk kesadaran paling sederhana manusia adalah kesadaran indrawi—melihat dan mendengar. Maka rasanya sulit dipercaya apabila gubernur, bupati, dinas pekerjaan umum, dan seluruh lembaga terkait tidak melihat, tidak mendengar, atau tidak membaca penderitaan rakyat yang terus berulang di tanah ini.
Banjir besar mulai menghantam hampir seluruh rumah masyarakat Kecamatan Biau sejak 2023. Lalu kembali terjadi pada 2024, 2025, dan kini kembali lagi pada Selasa, 26 Mei 2026. Empat tahun rakyat hidup dalam kecemasan yang sama. Empat tahun rakyat tidur dengan rasa takut setiap kali hujan turun. Empat tahun anak-anak menyaksikan orang tuanya menyelamatkan barang di tengah malam. Dan selama itu pula, solusi nyata terasa belum benar-benar hadir.
Setelah banjir surut, kayu-kayu besar berserakan di tengah permukiman warga. Masyarakat menduga kayu tersebut berasal dari aktivitas illegal logging di wilayah hulu. Belum lagi persoalan tanggul dan sistem pengendali air yang hingga kini belum mampu memberikan perlindungan memadai bagi warga.
Sebenarnya, bukan tugas rakyat menyelidiki penyebab banjir. Negara memiliki dinas, anggaran, aparat, serta seluruh instrumen kekuasaan untuk melakukan itu. Namun yang melahirkan kemarahan adalah ketika negara mengetahui masalahnya, melihat penderitaannya, mendengar jeritannya, tetapi membiarkan semuanya terus berulang.
Pemerintah datang ketika banjir menjadi viral. Datang dengan mobil dinas, pengawalan, dan kamera. Lalu pergi ketika air mulai surut dan rakyat membersihkan lumpur sendirian.
Padahal setelah air surut, penderitaan justru baru dimulai.
Ada ibu-ibu yang hanya bisa duduk diam melihat perabot rumah tangga rusak total. Ada petani yang memandang kebunnya hancur tanpa tahu harus memulai dari mana. Ada anak-anak yang trauma setiap mendengar hujan deras. Ada lansia yang membersihkan rumahnya sendiri dengan tubuh yang bahkan sulit berdiri lama. Dan ada masyarakat yang perlahan kehilangan keyakinan bahwa negara benar-benar hadir untuk mereka.
Yang tersisa hanyalah dua pertanyaan sederhana yang terus berulang di kepala rakyat:
“Apakah air itu akan datang lagi?”
“Apakah setelah ini kami benar-benar aman?”
Tidak ada anak kecil yang seharusnya belajar menyelamatkan barang di tengah banjir. Tidak ada lansia yang semestinya membersihkan lumpur sendirian. Dan tidak ada rakyat yang seharusnya hidup dalam rasa takut setiap kali langit mulai gelap.
Pada hari pertama pascabanjir, penulis berdiskusi dengan banyak warga. Tidak perlu menyebut nama mereka satu per satu, sebab penderitaan mereka terlalu banyak untuk dituliskan.
Salah seorang warga berkata setelah kunjungan pertama Bupati Gorontalo Utara yang membagikan dua buah roti:
“Kami tidak butuh roti. Kalau cuma roti, banyak di Alfamart.”
Mungkin ada yang menganggap masyarakat tidak tahu bersyukur. Namun tuduhan seperti itu lahir dari ketidakmampuan memahami rasa sakit rakyat secara utuh.
Sebab masyarakat tidak sedang meminta kemewahan. Mereka tidak meminta mobil, jabatan, atau uang miliaran. Mereka hanya meminta agar rumah mereka tidak terus tenggelam setiap tahun.
Roti bisa dibeli di minimarket, tetapi rasa aman tidak dijual di Alfamart. Rumah yang hanyut tidak bisa diganti dengan dua potong roti. Trauma anak-anak tidak dapat dihapus dengan dokumentasi bantuan. Dan ketakutan masyarakat setiap musim hujan tidak selesai hanya dengan pidato.
Warga lain berkata:
“Barang kami hanyut dan tidak tahu mau dicari di mana. Di sebelah sana ada perempuan janda, tidak tahu siapa yang bantu. Kami juga mau membantu, tapi rumah kami sendiri masih kotor. Ada juga orang tua lanjut usia tinggal sendiri, tidak tahu siapa yang bantu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terlalu menyakitkan untuk diabaikan.
Sebab, di balik banjir ini, rakyat sebenarnya sedang hidup dalam rasa kesepian yang besar: merasa ditinggalkan oleh negara.
Bahkan ada warga yang berkata:
“Katanya yang penting badengar. Selama ini kami sudah badengar. Kami bayar pajak, tapi ini yang kami peroleh.”
Pada akhirnya, penulis sampai pada satu kesimpulan: masyarakat hanya membutuhkan solusi agar air itu tidak datang lagi; agar rakyat tidak hidup dalam ketakutan setiap musim hujan; agar anak-anak tidak tumbuh dengan ingatan tentang rumah yang tenggelam; dan agar orang tua tidak lagi menangis melihat hasil pertanian hanyut dalam semalam.
Sebab ketika pola ini terus terjadi setiap tahun tanpa solusi yang nyata, maka ini tidak lagi pantas disebut sekadar bencana.
Ini adalah pembiaran yang lahir dari ketidakseriusan birokrasi dalam menghadapi persoalan yang terus berulang di Gorontalo Utara.
Dan rakyat dipaksa hidup dalam ketakutan yang diwariskan dari satu musim hujan ke musim hujan berikutnya.
Ditulis oleh: Moh. Dicki Modanggu

















